Kamis, 30 Desember 2010

Nikmati Eksotika Alam Bawah Laut Tanpa Basah


Nikmati Eksotika Alam Bawah Laut Tanpa Basah
Ruang itu dibangun lima meter di bawah permukaan Samudera Hindia.

Petti Lubis
VIVAnews - Menikmati eksotika alam bawah laut tak hanya bisa dilakukan dengan diving atau snorkling. Menyewa sebuah kamar hotel di bawah laut bisa menjadi alternatif bagi mereka yang memiliki gaya hidup kelas platinum.

Seperti apa yang ditawarkan sebuah resort mewah 'Conrad Maldives Rangali Island' akhir pekan lalu. Resort yang berlokasi di Kepulauan Maldives itu menyulap restoran bawah laut milik mereka menjadi sebuah kamar esklusif layaknya ruang hotel bintang lima.

Ruang yang dibangun lima meter di bawah permukaan Samudera Hindia itu memiliki desain dinding dan atap menyatu membentuk lengkungan 180 derajat. Sang arsitek sengaja menggunakan bahan tembus pandang sehingga pengunjung bisa menikmati eksotika ikan-ikan yang menari di sekeliling batu karang dari ruang seluas 9x5  meter itu.

Seperti dikutip dari laman Female First, penawaran bermalam di kamar bawah laut itu hanya berlaku semalam sebagai bentuk perayaan lima tahun berdirinya restoran bawah laut pertama di dunia milik mereka 'Ithaa'.

Hotel bawah laut yang sesungguhnya tengah dikembangkan di Dubai dan Jepang. Yang pertama adalah 'Hydropolis' yang berlokasi di Dubai. Hotel seluas hampir 11 hektare yang masih dalam proses pembangunan itu memiliki 220 kamar.

Masing-masing kamar didesain menyerupai gelembung-gelembung air yang ditanam pada kedalaman 20 meter di bawah permukaan laut. Pengembang membangun sebuah terowongan sepanjang 515 meter untuk menuju hotel itu. Hotel yang menelan biaya pembangunan sekitar US$ 550 juta ini rencananya ditawarkan dengan tarif sekitar US$ 5.000.

Sementara di Jepang, sebuah resor bintang lima bernama 'Poseidon' tengah dibangun pada kedalaman 12 meter di bawah permukaan laut di Kepulauan Fiji. Kamar hotel dilengkapi dengan fasilitas untuk menyemburkan makanan ke laut dan pengaturan cahaya untuk menghidupkan suasana laut. Akses menuju kamar menggunakan lift.

Hotel dengan konsep serupa juga rencananya bakal dibuka tahun ini di Istanbul. Seperti gambar berikut.

Desain kamar hotel bawah laut di Istanbul

Sayang, hotel-hotel mewah itu masih dalam tahap pembangunan. Jadi, bersabarlah untuk bisa menikmati keindahan alam bawah laut tanpa basah.

10 Mobil Asyik untuk Bercinta

Gambar
Alfa Romeo Giulietta Spider 1961 (Reuters)

London
 - Selain berfungsi sebagai tempat kerja, untuk mengantar belanja dan berlibur, mobil juga asyik dijadikan tempat berhubungan intim.

Bahkan sebagian dari mereka yang bercinta di dalam mobil mendapatkan pengalaman fantastis dan berharga. 

Seperti hasil survei Autoquake.com, Kamis (30/12/2010) menyatakan dari responden di Inggris, 54 persen pengemudi di Inggris mengakui pernah bercinta di dalam mobil.

Survei lainnya menyebutkan meski ada risiko tertangkap basah, 28 persen menyatakan berhubungan di dalam mobil adalah pengalaman yang fantastis. Hanya 32 persen menyatakan seks di dalam mobil sangat berlebihan.

Jika melihat jenis kelamin responden, kalangan pria lebih menyukai seks dalam mobil, 1 dari 3 pria menyebutkan hal itu.

Namun kalangan wanita lebih risih dan 31 persen dari mereka menyebutkan bercinta dalam mobil adalah hal yang salah. Soalnya, bercinta di mobil sangat tidak memuaskan karena keterbatasan ruang.

Terus apa saja ya mobil yang paling enak untuk bercinta? Berikut mobil yang paling asyik ber-making love ria menurut autoquake:

1. Mercedes-Benz E-Class Estate. Kabin penumpang yang luas sangat cocok untuk pasangan melepas asmara.

2. Volkswagen Beetle. 

3. Ferrari 458 Italia. Jika ingin bercinta di Ferrari, pilihlah Ferrai dengan gearbox semi-auto agar tidak ada yang cidera akibat tuas perseneling.

4. Mini Cooper. Nuansa romantis di era 60-an semakin kental jika bercinta di dalammnya.

5. Volvo V70. Karena kabin luas, mobil tersebut memungkinkan Anda untuk melakukan doggy style.

6. VW Golf GTi. Mobil untuk cara becinta yang efisien dan memuaskan.

7. Alfa Romeo Spider. Keeksotisan kabinnya dipilih para wanita dewasa dan mereka yang baru lulus perguruan tinggi.

8. Rolls-Royce Ghost. Pilihan romantis bagi perempuan dewasa.

9. Aston Martin Vanquish. Seperti kata aktor Roger Moore, Anda akan sangat puas di dalamnya.

10. Land Rover Discovery. Dalam kondisi cuaca apapun, mobil ini akan membawa Anda ke tempat sunyi di manapun.

Minggu, 26 Desember 2010

Peneliti Temukan Bukti Pemusnahan Massal

Fosil diyakini sebagai bukti pembinasaan massal yang terjadi sekitar 252 juta tahun lalu.


Fosil lumba-lumba purbakala yang ditemukan di Luoping (livescience.com)
BERITA TERKAIT
Manusia Kawini Neanderthal
Ikan Jantan Jagoan Bangkitkan Gairah Betina
Deteksi TBC, Tikus Lebih Baik dari Manusia
Ular Mampu Terbang di Udara
Meneliti Obat Kini Bisa Dilakukan Lebih Cepat
VIVAnews - Pada sebuah situs penggalian di Luoping, provinsi Yunnan, kawasan barat daya China, peneliti menemukan hampir 20 ribu fosil. Penemuan fosil dalam jumlah sangat banyak ini sama artinya dengan penemuan sebuah ekosistem lengkap.

Reptil, ikan, dan fosil-fosil biota laut lain melengkapi sejumlah fosil berukuran lebih kecil yang ditemukan sebelumnya.

Kumpulan fosil itu diyakini sebagai bukti dari pembinasaan massal makhluk hidup di Bumi, akibat aktivitas vulkanik yang terjadi di akhir era Permian, sekitar 252 juta tahun lalu.

Mike Benton, Profesor dari Bristol University School of Eearth Sciences dan Shixue Hu of the Chengdu Geological Center China menyebutkan, lapisan batu kapur setebal 16 meter yang melindung fosil-fosil ini berasal dari masa lalu. “Ketika itu, China Selatan masih merupakan sebuah pulau raksasa yang berada sedikit di atas garis katulistiwa dan memiliki iklim tropis,” ucapnya.

“Ditemukannya fosil tanaman darat juga mengindikasikan bahwa komunitas perairan ini tinggal di dekat hutan pohon-pohon pakuan,” ucap Benton, seperti dikutip dari Examiner, 23 Desember 2010.

Fosil-fosil yang ditemukan, kata Benton, tersimpan dengan sangat baik, dengan lebih dari separuhnya tetap dalam kondisi lengkap, termasuk jaringan lunaknya. “Tampaknya mereka dilindungi sepanjang masa oleh lapisan mikroba yang segera menutup tubuh makhluk hidup itu tak lama setelah mereka mati,” ucapnya.

Sepanjang sejarahnya selama 4,5 miliar tahun terakhir, planet Bumi telah mengalami sejumlah kejadian pemusnahan massal. Akan tetapi, dikutip dari RedOrbit, kejadian dahsyat yang menimpa ekosistem di era Permian itu terjadi di skala “yang tidak ada tandingannya” dan menyebabkan musnahnya 96 persen kehidupan laut dan 70 persen vertebrata darat.

Hanya satu dari sepuluh spesies yang selamat dan mereka menjadi basis dari pulihnya kehidupan di periode waktu berikutnya, yang disebut Triassic.

“Masa pemulihan dari pemusnahan massal ini tampaknya membutuhkan waktu antara 1 sampai 4 juta tahun,” kata Benton. “Kejadian di akhir masa Permian ini sangat dahsyat, membunuh sekitar 90 persen spesies sampai ekosistem-ekosistem tidak memiliki apapun yang tersisa untuk melanjutkan kehidupannya,” ucap Benton.

Saat ini peneliti fokus untuk mencari petunjuk yang bisa membantu mereka menentukan spesies apa saja yang berhasil melewati kejadian di akhir era Permian itu. Selanjutnya, fosil-fosil ‘harta karun’ dari era Permian ini akan digunakan oleh peneliti untuk mempelajari bagaimana spesies tertentu dapat beradaptasi dan bertahan setelah mengalami pemusnahan massal. (sj)

Gunung Berapi Es Ditemukan di Bulan Saturnus



Pesawat luar angkasa Cassini menemukan tiga gunung berapi es di bagian selatan Titan.
Indra Darmawan
VIVAnews - Para peneliti menemukan bukti keberadaan sebuah gunung berapi es atau disebut juga dengan cryovolcano, di Titan, bulan terbesar yang dimiliki oleh Planet Saturnus.
Pesawat luar angkasa Cassini yang dikirim ke Saturnus sejak 1997, berhasil menemukan tiga buah gunung api es dengan puncak setinggi 1.000-1.500 meter yang mengeluarkan material ke segenap permukaan di sekitarnya.
"Yang kami temukan adalah sesuatu yang tak lain adalah gunung berapi. Akhirnya, kami menemukan beberapa bukti bahwa Titan adalah dunia yang aktif," kata Dr Randy Kirk, pakar Geofisika US Geological Survey yang juga anggota tim radar Cassini, pada acara pertemuan American Geophysical Union.
Seperti dilansir oleh situs Wired.com, Titan adalah satu-satunya tempat selain bumi yang memiliki danau, sungai, awan, dan sebuah siklus penguapan serta kabut atau hujan, yang menghubungkan semuanya.
Puncak dari cryovolcano itu, terdapat di daerah Titan bernama Sotra Facula yang terletak di bagian Titan sebelah selatan. Gunung berapi ini dinamakan juga sebagai "The Rose", karena dari gambar yang tertangkap oleh instrumen radar dan infra merah Cassini, gunung berapi ini seperti bunga mawar.
Titan memang sudah sejak lama diperkirakan memiliki cryovolcano. Namun, karena atmosfer Titan yang begitu berkabut, observasi terhadap kecurigaan itu sangat sulit dibuktikan. 
Temuan baru ini diharapkan dapat membantu menjelaskan misteri Titan yang selama ini belum terpecahkan. Atmosfer Titan yang tebal dan kaya akan nitrogen memiliki kandungan metan dalam jumlah yang cukup banyak. Secara teoritis dalam waktu sekitar 10 juta tahun, kandungan metan ini akan dipecah oleh sinar matahari.
Oleh karena itu, keberadaan gunung berapi ini diperkirakan dapat mengisi kembali kandungan metan di atmosfer Titan. "Cryovolcano menawarkan skenario yang sempurna di mana gas metan dari dalam perut Titan keluar ke lapisan atmosfernya," kata Linda Spilker, ilmuwan pada proyek Cassini dari Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California.
Memang belum diketahui secara pasti material apa yang dimuntahkan gunung berapi ini ke angkasa Titan. Bisa saja air, atau air dan amonium, atau unsur-unsur hidrokarbon.
Keberadaan cryovolcano di Titan, diharapkan suatu hari bisa membantu para ilmuwan menyimpulkan adakah kehidupan di Titan, atau mungkin kehidupan pernah ada di Titan. 

7 Skrenario Astronom Menemukan Alien



Alih-alih menemukan manusia luar angkasa, ilmuwan baru menjajaki temuan mikroba.
Elin Yunita Kristanti
VIVAnews -- Ini masih jadi misteri besar: apakah selain manusia, ada mahluk cerdas lain di jagad raya ini. Pencarian mahluk ekstraterresterial (ET) bahkan dimulai sejak 50 tahun lalu, ketika ilmuwan Universitas Cornell, Frank Drake mengarahkan teleskop radio ke arah bintang, mengharap bisa menangkap transmisi dari alien.

Tak hanya itu, menurut astrofisikawan, Stephen Hawking, pada 4 Februari 2008, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pernah mengirimkan pesan ke luar angkasa. Isinya, lagu 'Across the Universe' milik The Beatles. Namun, tak pernah ada jawaban. Tak ada bukti sahih yang mendukung keberadaan manusia luar angkasa.

Namun, penemuan baru-baru ini membuat harapan menemukan ET kembali membuncah. Astronom, Univeristas Yale mengestimasi ada  300 sextillion bintang di angkasa, ini berarti tiga kali lipat dari perkiraan sebelumnya.

Sementara  Lisa Kaltenegger dari Harvard University mengatakan, para ilmuwan yakin, separuh bintang di galaksi memiliki planet yang ukurannya dua sampai 10 kali ukuran Bumi. 'Bumi super' atau 'super Earths' itu mungkin menopang kehidupan. Sementara peneliti lain menemukan mikroba yang hidup di arsenik.

"Bukti yang mengarah semakin kuat," kata Carl Pilcher, Direktur Institut Astrobiologi NASA.  "Saya berpikir siapapun melihat bukti ini akan berkata, pasti ada kehidupan di luar sana."

Alih-alih menemukan kembaran manusia, ilmuwan saat ini masih dalam tahap mendekat ke penemuan tanda-tanda kehidupan yang mikroskopis. Meski harapan itu masih ada.

Berikut ini skrenario penemuan mahluk alien yang dilakukan para astronom:

1. Mars. Planet merah ini memiliki air di bawah tanah yang merupakan salah satu kunci kehidupan. Para ilmuwan menduga, kemungkinan besar ada mikroba yang hidup di bawah tanah, meski robot pencari yang menyisir Mars belum menemukan satu pun.

2. Europa. Satelit Planet Yupiter ini memiliki radiasi di permukaannya yang bisa membunuh nyawa mahluk hidup. Namun di bawah lautan beku di sana ada kemungkinan beberapa jenis mikroba hidup di sana -- di bagian yang cair.

3. Enceladus (baca: en-sell-ah-dus). Satelit mini Planet Saturnus ini memiliki bulu supersonik gas dan debu yang ditembakkan dari permukaannya. Ini adalah indikasi, enceladus memiliki zat cair yang berfungsi menopang kehidupan.

4. Titan. Bulan terbesar Planet Saturnus ini memiliki cairan seluas samudera. Namun, ada dugaan itu adalah cairan methan.

5. Planet ekstrasolar atau di luar tata surya. Para astronot menggunakan teleskop yang bisa mendeteksi keberadaan atmosfer di permukaan planet-planet tersebut -- dari sini bisa dicari tahu keberadaan proses fostosintesis atau proses biologis lainnya.

6. Di Bumi. Mencari alien di Bumi? Jangan salah, para ilmuwan juga menyisir Bumi untuk mencari keberadaan mahluk asing -- yang mungkin terbawa ke Bumi dari meteorit atau komet yang menyelonong masuk. Para ilmuwan menggali potensi temuan kehidupan asing di dasar laut atau di bawah es Antartika -- yang tak biasa dan bisa jadi berasal dari luar angkasa.

7. Dari sinyal radio. Usaha Frank Drake masih berlanjut. Sejumlah ilmuwan masih setia menyisir langit, mencari transmisi alien dari luar angkasa. (AP)

Gagal Orbit, Satelit Rusia Terdampar



Sejak awal, roket Proton yang membawa ketiga satelit mengambil lintasan yang salah.
Muhammad Chandrataruna
VIVAnews - Tiga satelit navigasi milik Rusia dilaporkan jatuh ke lautan Pasifik, di wilayah negara bagian Hawaii, setelah roket yang membawanya gagal mencapai orbit. Demikian pejabat resmi dari lembaga ruang angkasa Rusia mengatakan.

Menurut keterangan salah seorang pejabat pada kantor berita Rusia RIA-Novosty, kapsul yang membawa tiga satelit Glonass itu terdampar di tengah laut pasifik, sekitar 1.500 kilometer dari Honolulu, dan tidak memakan korban.

Kegagalan ini cukup membuat Rusia terpukul. Pasalnya, ini dianggap kemunduran besar Rusia dalam rangka menempatkan sistem navigasi satelit sekaligus menandai "kekalahan"-nya dari GPS (global positioning system) milik AS. Padahal, sebelumnya, tiga satelit Glonass akan mengambil bagian pada jajaran satelit navigasi pada sistem Galileo Eropa.

"Roket Proton yang lepas landas dari Baikonur pada pukul 13.25 waktu setempat mengambil lintasan yang salah dari awal," kata sumber di lembaga ruang angkasa Rusia. "Akibatnya, roket itu tak bisa membawa ketiga satelit ke orbit yang ditentukan dan kembali ke atmosfer."

Belum diketahui berapa kocek yang terbuang sia-sia akibat gagalnya orbit tiga satelit Glonass. Namun, menariknya Insiden ini juga menarik perhatian Perdana Menteri Vladimir Putin. Dia selalu menggembar-gemborkan arti penting dari pengembangan sistem Glonass untuk menjamin kemerdekaan teknologi Rusia.

Sekadar diketahui, tiga satelit Glonass-M mempunyai massa 1,4 ton. Seharusnya, ketiga satelit itu menyelesaikan konstelasi satelit yang sudah dibangun di Moskow. Sebab, Putin mengatakan, pada April silam, seluruh mobil baru yang terjual di Rusia harus dilengkapi sistem navigasi baru, yang dikembangkan oleh militer Rusia.

"Secara total, Moskow akan meluncurkan tujuh satelit Glonass baru yang akan mencakup seluruh permukaan di Bumi sehingga jumlah satelit milik Rusia secara total mencapai 27-28 satelit," kata Putin.

"Di tahun 2011, kami berencana mengalokasikan 1,7 miliar rubel (setara Rp490 miiliar) untuk sejumlah satelit. Tahun ini, kami telah menghabiskan kurang lebih dua miliar rubel," tandasnya. (hs)

Ilmuwan Teliti Efek Matahari pada Iklim Bumi



LASP asal Colorado dan NASA membangun pusat penelitian khusus untuk studi tersebut.
Muhammad Chandrataruna
VIVAnews - Boulder's Laboratory for Atmospheric and Space Physics (LASP) di University of Colorado dan Goddard Space Flight Center milik NASA di Greenbelt mengumumkan kolaborasi keduanya dalam pembangunan sebuah pusat penelitian yang akan dimanfaatkan untuk mempelajari pengaruh matahari pada iklim Bumi.

Pusat penelitian tersebut, yang diberi nama Sun-Climate Research Center (SCRC), akan dipimpin oleh ilmuwan LASP Research Peter Pilewskie dan Robert Cahalan, yang mengepalai Goddard's Climate and Radiation Branch. Keduanya ditemani Douglas Rabin, kepala Goddard's Solar Physics Laboratory.

"Hal yang menarik dari kolaborasi ini adalah bahwa kita sama-sama yakin pusat ini akan mampu mempromosikan studi yang siap menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar tentang sistem iklim di Bumi, termasuk bagaimana atmosfer Bumi merespon variabilitas Matahari, dan bagaimana kondisi yang berubah-ubah itu mempengaruhi iklim di bumi," kata Pilewskie.

"Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting agar kita dapat mengukur dampaknya pada iklim Bumi dan manusia," tandasnya.

Didukung Perjanjian Federal Space Act Agreement, SCRC akan mendorong kolaborasi pengetahuan antara atmosfer Bumi dan ilmu matahari melalui dua institusi yang berbeda.

Kolaborasi ini mencakup program pertukaran ilmuwan antara kedua organisasi, LASP dan Goddard, termasuk pertukaran ilmu postdoctoral dan pascasarjana di bidang sains, teknik, dan misi operasi. Kerja sama ini juga termasuk simposium penelitian internasional tentang interaksi iklim matahari.

"Dalam beberapa tahun terakhir Goddard dan LASP bekerja sama untuk beberapa misi matahari dan Bumi," kata Cahalan. "Sekarang kami berharap dapat meneruskan penelitian tentang matahari dan Bumi ini, namun lebih fokus pada studi perubahan atau variabilitas pada matahari yang terjadi, lantas mencari tahu pengaruhnya terhadap iklim bumi," imbuhnya.

"Dengan bekerja sama dengan kolega-kolega kami di Goddard, kami dapat meningkatkan keterampilan dan membantu tim kami mengambil langkah penting ke arah kerja sama yang lebih besar antara pusat NASA tim-tim riset universitas terkemuka," ujar direktur LASP Daniel Baker. (umi)